Tuesday, August 14, 2012

Penipuan Melalui Telepon Berkedok Beasiswa Dari Diknas Provinsi



Modus penipuan ini pernah saya baca di media massa di waktu yang lalu, yaitu seseorang menelpon orang tua siswa dan meminta mentransfer sejumlah dana ke nomor rekening mereka sebagai persyaratan penerimaan beasiswa yang di dapat oleh putra mereka.  Saya tak menyangka saya akan mengalaminya. Tapi syukurlah tidak sampai tertipu. Pagi tadi saya ditelpon dari seseorang yang mengaku dari kantor Diknas provinsi, saya menanyakan identitasnya dan bapak tersebut menyebutkan sebuah nama, kembali saya bertanya dari bagian mana di kantor, dijawabnya dari bagian kurikulum, sebab itu ia menelepon saya yang adalah bagian kurikulum di sekolah. Katanya ia mendapatkan nomor telepon saya dari kepala sekolah yang sebelumnya menyatakan untuk mengambil data dari bagian kurikulum saja. Saya mulai merasa ada yang ganjil dari apa yang dikatakannya, saya kembali bertanya dari bagian mana ia di kantor, apakah dikdas atau dikmenum, ia menjawab dikdas, dari jawabannya saya menangkap ada yang tidak beres, karena untuk sekolah kami yang SMA semua pendidik ataupun tenaga kependidikan tahu bahwa SMA masuk di dikmenum. Selanjutnya ia meminta data siswa-siswa berprestasi untuk diberikan beasiswa, saya menjawab agar mengirimkan formatnya saja ke sekolah untuk diisi, tapi dijawab ditulis langsung saja karena hanya pendek, walaupun mulai merasa bahwa hal ini tidak benar tapi saya coba ikuti saja, dia minta nama-nama siswa, nomor induk ,jumlah nilai raport terakhir, nama orang tua, dan nomor contack person orang tua. Mendengar kata contack person orang tua saya langsung menjawab dengan tegas bahwa adalah menyalahi aturan untuk meminta contack person orang tua, kalau mau minta data hanya nama orang tua saja tanpa contack person atau nomor telepon orang tua, kembali saya bertanya memastikan apakah dia benar dari diknas provinsi atau tidak, orang tersebut menjawab kasar  dan mengatakan akan melaporkan saya ke kepala dinas karena tidak menghargai tawaran beasiswa kemudian langsung menutup telepon sementara saya bicara. Wah!

Saya konfirmasi kepada kepala sekolah, kepala sekolah mengatakan bahwa yang menelpon tersebut mengaku dari diknas provinsi dan meminta menghubungi bagian kurikulum, saat itu kepala sekolah menjawab bisa langsung ke kepala sekolah nanti kemudian kepala sekolah yang mengambil datanya dari bagian kurikulum, tapi orang tersebut meminta untuk langsung berbicara melalui telepon ke bagian kurikulum. Maka kepala sekolah memberikan nomor telepon saya.  Suatu hal yang bertentangan! Penelpon tersebut menyatakan bahwa kepala sekolah yang menyarankan dia untuk mengambil data di bagian kurikulum
.
Walaupun saya tak dapat memastikan bahwa kemungkinan benar penelpon tersebut adalah pegawai dari diknas provinsi, tapi dari caranya menelpon, memberikan informasi identitas diri yang meragukan dan meminta data siswa yang tidak masuk akal, paling tidak sudah mengindikasikan rencana penipuan kepada orang tua siswa. 

Pada akhirnya yang bisa saya lakukan adalah bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan untuk perlindungan-Nya dan hikmat akal budi yang dikaruniakan-Nya, sehingga saya tidak ditipu dan tidak menjadi alat untuk penipuan lanjutan kepada orang tua siswa.

Sumber gambar: www.lensaindonesia.com

2 comments:

  1. waduh, kalo dimata hukum bisa jadi 'antek2 tidak direncanakan' dong, kakak Mei?
    ini pengalaman pribadi, atau ... yang lain? :)

    ReplyDelete
  2. Pengalaman pribadi ini Yooke, tadi pagi... Syukurlah tidak jadi antek2 penipu. :)

    ReplyDelete